6 Adat Warga Tradisi Indonesia, Ada Budaya Potong Jemari
Indonesia diketahui kaya tradisi istiadatnya. Semasing wilayah mempunyai warga tradisi dengan keunikan tradisinya semasing. Semua terlihat menarik, serta sering jadi magnet buat beberapa pelancong serta periset asing untuk cari tahu semakin dalam budaya itu.
Menurut Tubuh Pusat Statistik (BPS), ada seputar 100 suku asli yang hidup bersama-sama kita di Indonesia. Tetapi, tidak selama-lamanya adat yang masih tetap dijaga warga tradisi itu unik. Beberapa salah satunya malah berkesan mengerikan.
Dimana warga tradisi itu tinggal?
1. Ma'nene di Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Adat Ma'nene adalah langkah warga Toraja menghargai beberapa leluhur. Menurutnya, roh mereka belum pernah tinggalkan keluarga. Oleh karena itu, mereka punyai adat untuk merias serta mengubah baju untuk dibawa pulang ke rumah.
Umumnya Ma'nene baju adat dilaksanakan sesudah panen besar pada Agustus. Meskipun begitu, ada juga yang melakukan pada September, satu tahun minimal ada 3x.
2. Kebo-keboan di Banyuwangi, Jawa Timur
Kebo-keboan diadakan untuk meminta kesuburan sawah serta hasil panen yang melimpah. Adat ini digerakkan warga Banyuwangi, terutamanya Suku Osing. Tiap tahunnya, kamu dapat lihat Kebo-keboan di Desa Alasmalang serta Aliyan pada 10 Muharram atau Suro.
Acara diawali dengan mengarak orang yang kerasukan roh gaib untuk dibawa ke Rumah Kebudayaan Kebo-keboan. Paling akhir, akan ada Dewi Kesuburan serta Dewi Sri yang menaburkan benih padi pada beberapa petani serta kebo.
3. Omed-omedan di Bali
Omed-omedan jadi adat pemuda Banjar Kaja, Desa Pakraman Sesetan, Denpasar, dalam menyongsong perubahan Tahun Baru Caka. Acara ini telah dilaksanakan semenjak era ke-18 Masehi.
Omed-omedan bukan adat ciuman sama seperti yang nampak di sosial media, tetapi sama-sama tarik-menarik. Adat ini cuma bisa dilaksanakan anggota baru masuk perguruan tinggi sampai yang belum menikah. Buat yang sedang berhalangan dilarang untuk ikut.
4. Ikipalin di Papua
Suku Dani di Lembah Baliem, Papua, punyai langkah cukup berlebihan dalam mengutarakan kesedihannya. Saat ada bagian keluarga atau saudara yang wafat, mereka akan memangkas jarinya. Ini dilaksanakan untuk menahan musibah yang membuat nyawa hilang terulang lagi.
Ikipalin dilaksanakan memakai benda tajam, seperti pisau, kapak, parang, atau yang lain. Untungnya, bersamaan dengan terbukanya Suku Dani, sekarang mulai beberapa orang yang wafatkannya.
5. Tatung di Singkawang, Kalimantan Barat
Seperti debus, kamu yang belum terlatih akan takut lihat adat Tatung di Singkawang. Dalam memeriahkan Cap Go Meh Singkawang, ada beberapa ratus orang yang lakukan adat itu. Tatung sendiri punyai arti roh dewa dari bahasa Hakka.
Dalam jaga kesaktiannya, mereka diwajibkan lakukan beberapa ritual. Diantaranya puasa makan daging tiap tanggal satu serta 15 tiap bulannya dalam penanggalan Tiongkok.
6. Bakar Tongkang di Bagan Siapiapi, Riau
Turunan Tionghoa di Bagan Siapiapi, Riau, punyai adat istimewa tiap Juni namanya Bakar Tongkang. Awalannya, adat ini jadi bentuk keputusasaan warga Tionghoa untuk tinggal dalam suatu daerah.
Bersamaan perubahan jaman, adat ini jadi pengingat warga Bagan Siapiapi untuk tidak lupa dengan kampung halamannya. Ritual ini diselenggarakan dengan membuat kapal monitor yang nanti akan dibakar.
Awalnya, kelenteng yang ada di sekelilingnya lakukan upacara pemanggilan roh. Kemudian, roh akan dimasukkan ke orang yang siap jadi medium.
Menurut Tubuh Pusat Statistik (BPS), ada seputar 100 suku asli yang hidup bersama-sama kita di Indonesia. Tetapi, tidak selama-lamanya adat yang masih tetap dijaga warga tradisi itu unik. Beberapa salah satunya malah berkesan mengerikan.
Dimana warga tradisi itu tinggal?
1. Ma'nene di Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Adat Ma'nene adalah langkah warga Toraja menghargai beberapa leluhur. Menurutnya, roh mereka belum pernah tinggalkan keluarga. Oleh karena itu, mereka punyai adat untuk merias serta mengubah baju untuk dibawa pulang ke rumah.
Umumnya Ma'nene baju adat dilaksanakan sesudah panen besar pada Agustus. Meskipun begitu, ada juga yang melakukan pada September, satu tahun minimal ada 3x.
2. Kebo-keboan di Banyuwangi, Jawa Timur
Kebo-keboan diadakan untuk meminta kesuburan sawah serta hasil panen yang melimpah. Adat ini digerakkan warga Banyuwangi, terutamanya Suku Osing. Tiap tahunnya, kamu dapat lihat Kebo-keboan di Desa Alasmalang serta Aliyan pada 10 Muharram atau Suro.
Acara diawali dengan mengarak orang yang kerasukan roh gaib untuk dibawa ke Rumah Kebudayaan Kebo-keboan. Paling akhir, akan ada Dewi Kesuburan serta Dewi Sri yang menaburkan benih padi pada beberapa petani serta kebo.
3. Omed-omedan di Bali
Omed-omedan jadi adat pemuda Banjar Kaja, Desa Pakraman Sesetan, Denpasar, dalam menyongsong perubahan Tahun Baru Caka. Acara ini telah dilaksanakan semenjak era ke-18 Masehi.
Omed-omedan bukan adat ciuman sama seperti yang nampak di sosial media, tetapi sama-sama tarik-menarik. Adat ini cuma bisa dilaksanakan anggota baru masuk perguruan tinggi sampai yang belum menikah. Buat yang sedang berhalangan dilarang untuk ikut.
4. Ikipalin di Papua
Suku Dani di Lembah Baliem, Papua, punyai langkah cukup berlebihan dalam mengutarakan kesedihannya. Saat ada bagian keluarga atau saudara yang wafat, mereka akan memangkas jarinya. Ini dilaksanakan untuk menahan musibah yang membuat nyawa hilang terulang lagi.
Ikipalin dilaksanakan memakai benda tajam, seperti pisau, kapak, parang, atau yang lain. Untungnya, bersamaan dengan terbukanya Suku Dani, sekarang mulai beberapa orang yang wafatkannya.
5. Tatung di Singkawang, Kalimantan Barat
Seperti debus, kamu yang belum terlatih akan takut lihat adat Tatung di Singkawang. Dalam memeriahkan Cap Go Meh Singkawang, ada beberapa ratus orang yang lakukan adat itu. Tatung sendiri punyai arti roh dewa dari bahasa Hakka.
Dalam jaga kesaktiannya, mereka diwajibkan lakukan beberapa ritual. Diantaranya puasa makan daging tiap tanggal satu serta 15 tiap bulannya dalam penanggalan Tiongkok.
6. Bakar Tongkang di Bagan Siapiapi, Riau
Turunan Tionghoa di Bagan Siapiapi, Riau, punyai adat istimewa tiap Juni namanya Bakar Tongkang. Awalannya, adat ini jadi bentuk keputusasaan warga Tionghoa untuk tinggal dalam suatu daerah.
Bersamaan perubahan jaman, adat ini jadi pengingat warga Bagan Siapiapi untuk tidak lupa dengan kampung halamannya. Ritual ini diselenggarakan dengan membuat kapal monitor yang nanti akan dibakar.
Awalnya, kelenteng yang ada di sekelilingnya lakukan upacara pemanggilan roh. Kemudian, roh akan dimasukkan ke orang yang siap jadi medium.

Comments
Post a Comment